Indonesia Presidents Cup betting_Reliable sports betting platform_The foreign baccarat master's play style_Baccarat Probability Table

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Forum judi,Stasiun olahraga saba,Kami online judi

TerusBlBlackjack calculatorackjack calculator, pengBlackjack calculatoralaman macam apa sih yang sebenarnya cowoBlackjack calculatork-cowok rasakan pada saat disunat? Buat kamu yang pengen tahu atau sekadar mengenang masa lalu, yuk simak artikel ini sampai kelar!

Trik buat ngingatin tamu yang suka ‘lupa’ ngasih duit: pura-pura aja ngitung atau ngibasin duit pas dia mau salam sama kamu.

Burungmu udah mulai sembuh, tapi kamu masih merasa aneh aja sama bentuknya. Buat mastiin bentuk penismu yang itu normal, kamu pun mencoba melakukan beberapa studi banding ke teman-temanmu yang udah sunat.

Kakak cowok: Blackjack calculator“Mampus lu, sakit banget lho.”

Nah, itulah sedikit perasaan kaum cowok saat disunat. Buat yang udah sunat, kamu wajib ngeshare artikel ini sebab kita pernah merasakan ngilu yang sama di bawah sana.

Dan kamu pun lega saat tahu bentuk milikmu gak jauh beda dengan milik aku, dia, dan mereka. Fiuuh~

“Jangan lihat aku! Nanti aku gak bisa menikah!”

Misalnya, kamu diiming-imingi ukuran “burung” yang tambah besar tanpa perlu ke Mak Erot dan duit angpau yang berlimpah dari orang-orang yang menjenguk kamu.

Teman yang barusan disunat: (Dengan gaya bicara anak kecil) “Ah, gak sakit, kok. Aku ‘kan lakik.”

Ini biasanya kejadian pas SD. Ketika salah satu temenmu baru sunatan, dia kadang jadi pusat perhatian buat diinterogasi oleh mereka yang belum sunat.

Dengan ditunggui kerabat dekatmu yang kuat ngeliat darah, prosesi khitan pun dimulai. Di luar dugaanmu, proses yang paling sakit itu adalah saat mantri menyuntikkan bius lokal ke kemaluanmu yang lunglai. Selebihnya, kamu gak merasakan apa-apa.

Kamu: “Ma, sunat itu diapain, sih? Emang sakit, ya?

“Hayoo, sunat dulu ya.”

Di luar dugaan, temanmu cukup sumringah menikmati pestanya, meski teteup sambil nahan perih. Tapi, kamu tetap ngilu ngelian “bentuk jadi” dari burung temanmu yang terbalut perban.

*injak-injak pake sepatu.*

Untungnya bapak mantri khitan menenangkan kamu, “Gak sakit, kok. cuma kayak digigit semut.”

Itulah hari di mana seorang lelaki begadang semalaman. Untungnya ibu kamu setia mengipasi area genitalmu. Pukpukpuk.

“Tapi, gorengan itu bagian dari hidup aku, Pak!”

“Ma, kalau tiap sunatan Bambang dapet duit segini banyak, gak papa deh kalo bulan depan Bambang disunat lagi.”

Beberapa anak sebayamu berusaha ngintip dari balik pintu atau jendela. Duh, tengsin banget kalau ada orang yang kamu taksir di situ!

Waktu kecil, kamu mungkin pernah mandi atau ganti baju bareng papa atau kakak lelakimu. Terus, kamu merasa heran karena bentuk penis mereka yang beda denganmu. Tapi, namanya anak kecil, kamu pun melupakan rasa penasaran ini selepas tidur siang.

“NOOOOO, AI DON WANNA DAIIIII!”

Teman yang barusan disunat: (Nangis kejer.)

Kamu: “Coba sini pegang.” (Kamu pun menepuk selangkangannya tanpa dosa.)

Iya, sakitnya emang cuma kayak digigit semut. Semut rang-rang. Seratus ekor.

>,

Meski masih takut, kamu lebih suka menanggung rasa sakit daripada rasa malu gara-gara belum disunat. Akhirnya kamu pun ngomong sama ortumu:

Kamu pun jadi ngeri sendiri membayangkan “burung” kesayanganmu itu bakal dipenggal gak lama lagi.

Padahal sunat gak sunat, penis tuh tetep bakal tumbuh seiring perkembangan kita. Diboongin papa kamu tuh. Tapi kamu juga gak masalah sih, toh besar atau enggak, si “adek” tetep jadi kesayangan kamu.

Untungnya, gak ada orang yang bereaksi kayak gini: 

Mendengar tentang sunat, apa yang kamu rasakan? Ngilu di kemaluan? Ya, sunat atau khitan udah menjadi sebuah tradisi di sebagian wilayah di Indonesia. Bahkan, ajaran Islam mewajibkan mereka yang laki-laki untuk dikhitan sebelum akil balig. Jadi, kamu dan teman-temanmu yang cowok kemungkinan besar udah pernah merasakan pengalaman sensasional yang satu ini di masa kecilnya.

Papa: “Ah Mama tuh teori doang. Sunat itu… dipotong ‘burungnya’! MWA-HAHAHA!”

Dalam hati, ‘Duh, mampuuus! Bentar lagi giliran gue disunat!’

Selain menjenguk, kamu juga punya satu niat lagi: survey lapangan! Kamu pengen tahu gimana rasanya disunat, kayak apa bentuknya, dan apa yang kamu dapet dari sana.

Maklum, kamu belum begitu paham seberapa penting peran anumu itu buat masa depan.

“Eh, aku pengen studi banding, nih. Liat doong…”

Lengkap dengan peci, baju koko, serta sarung kebesaran, kamu pun jadi raja sehari dan duduk di singgasana. Kerabat, tetangga dan beberapa temanmu pun berpose dengan tit*t barumu kamu. Gak lupa, mereka juga membawa hadiah atau sekadar uang sumbangan pereda ngilu.

Kalian—kamu dan burungmu—tumbuh bersama bagai saudara kembar. Kalian saling menyayangi. Jadi jelaslah kalau kamu ogah  terjadi apa-apa sama anumu, apalagi merasakan ngilu yang sama di masa kecil untuk yang kedua kalinya!

Sama dokter, eh, mantri, kamu gak diperbolehkan makan telur atau gorengan.

Akhirnya kamu pun ditegur Pak Guru. “Jangan diulang ya, Bambang. Sakitnya tuh di sini, mBang. DI SINI!” (Nunjuk-nunjuk hatinya yang rapuh karena masih jomblo.)

Untungnya, celetukanmu itu gak dijawab papamu dengan: “Kata Mama, bentuk tit*t papa bagus, kok!”

“Bambang ‘kan udah gede. Kapan mau disunat?”

“Ma, Pa, Bambang siap. Mohon doa restu.”

“Ih, tit*t Papa kayak kepala triceratops!”

Kamu: “Eh, gimana rasanya? Sakit, gak?”

Mama: “Sunat itu… (jelasin panjang lebar, padahal belum pernah sunat.)”

Ternyata gak cuma orang-orang dewasa yang stres gara-gara pertanyaan “kapan”: kapan lulus, kapan punya pacar, kapan nikah, kapan punya anak, dan seterusnya. Bocah lelaki juga mengalaminya di usia yang masih sangat muda. Sungguh tega.

“Ciee, tit*t baru! Kenalan dulu sini”